Tampilkan postingan dengan label PENTAS PAKELIRAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PENTAS PAKELIRAN. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Juni 2010

Profil : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M. Hum

I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M. Hum, lahir di Geria Tengah, Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali pada tanggal 22 Januari 1964. Sejak berusia 10 tahun ia menekuni kesenian terutama menabuh gender wayang. Belajar dari kakak kandung untuk mengikuti ayah mendalang wayang kulit di seputar wilayah Nusa Penida.

Selain berasal dari keluarga pedalangan, ia juga menggali ilmu di :

  1. ASTI Denpasar untuk menyelesaikan Sarjana Muda (BA) tahun 1986 dengan skripsi “Kekayon Wayang Kulit Parwa di Desa Sukawati Gianyar”
  2. Gelar Sarjana Seni Pedalangan (SSP) diperoleh di STSI (sekarang ISI Denpasar) tahun 1989 dengan skripsi “Pakeliran Wayang Berkembang, Anugerah”, duet bersama I Ketut Kodi, SSP
  3. Pada bulan September 1994, mengikuti Program Pasca Sarjana (S2) Kajian Seni Pertunjukkan, jurusan Ilmu-ilmu Humaniora di UGM Yogyakarta, dan diselesaikan tahun 1997 dengan gelar Magister Humaniora (M. Hum), tesis yang diangkat adalah “Wayang Sapuh Leger, Fungsi dan Maknanya dalam Masyarakat Bali”


Sebagai akademisi di almamaternya, yaitu ISI Denpasar Fakultas Seni Pertunjukkan Jurusan Pedalangan, ia menduduki jabatan Pambantu Dekan I. Berbagai jurnal ilmiah tentang wayang dan pedalangan telah ia tulis yang dapat diperoleh di Perpustakaan Fakultas dan ISI Denpasar.

Sebagai seniman, berkesempatan pula mengikuti misi kesenian ke Jepang (1990, 1993, 1995), Kapal Pesiar Jepang “Asuka” (1992), Taiwan (1998), dan Switzerland (2001). Pernah mendalang di luar Bali yaitu di Yogyakarta, Lampung, Sumbawa, dan Surakarta.

(dikutip dari buku Wayang Sapuh Leger) karya I Dewa Ketut Wicaksana


Perkenalan saya dengannya adalah bermula ketertarikan terhadap pewayangan Bali yang memang sangat sulit untuk diperoleh referensinya. Berbagai toko buku dan perpustakaan ternyata sulit mendapatkannya. Lalu secara tidak sengaja mendapatkan buku Wayang Sapuh Leger di Toko Buku Garuda Wisnu Jl Teuku Umar, Denpasar. Setelah saya baca hingga tuntas, lalu ketertarikan ini pun bertambah dan dengan sedikit menghindar dari rasa malu saya mendapatkan nomor handphone-nya dari Tata Usaha ISI Denpasar. Setelah kontak untuk yang pertama kalinya, lalu saya kunjungi ke tempat dimana ia mengajar dan setelah bertemu semakin akrab karena pribadinya sangat menyenangkan.


Untuk selanjutnya diskusi kami semakin intens dan ternyata mengapa buku wayang bali langka jawaban darinya adalah karena orang bali tidak ada kesempatan untuk menulisnya, jika ada itu pun hanya berkembang di seputar akademik berupa jurnal dan tulisan ilmiah. Tunggu sajalah apa yang kuperbuat dengannya nanti...


Tommy Johan Agusta

Denpasar, 11 Juni 2010

Selasa, 18 Mei 2010

WAYANG CENK BLONK


I Wayan Nardayana, S.Sn., M.Fil.H., yang lahir di Banjar Batannyuh, Belayu (Kecamatan Marga, Tabanan. Bali) pada tanggal 5 Juli 1965, setelah menamatkan Jurusan Pedalangan di ISI Denpasar melanjutkan ke jenjang Magister di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Ditangannya pulalah Wayang Cenk Blonk begitu digemari oleh masyarakat Bali. Selain menggunakan bahasa daerah, Nardayana juga sangat piawai mementaskan wayang dengan bahasa Inggris. Ditambah lagi guyonan dan banyolan yang menyegarkan sehingga penonton tidak beranjak hingga tuntas.

Pergelaran wayang kulit di Bali sebelum ini identik dengan pertunjukan untuk melengkapi upacara keagamaan dan adat. Sebagai tontonan, seni hiburan itu kurang menarik minat masyarakat setempat, terutama kaum muda. Namun, anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya benar, setelah I Wayan Nardayana melakukan terobosan, memadukan unsur tradisi dan kreasi untuk memperkaya pementasan wayang kulit Bali.

Wayang Cenk Blonk, jelas Nardayana, merupakan wayang Ramayana atau wayang Betel, bukan wayang Tantri atau wayang Babad. Cenk Blonk merupakan gabungan kependekan nama dua punakawan –Nang Klenceng dan Nang Keblong yang berwajah, suara dan perilaku lucu. Selain Klenceng dan Keblong, dalam wayang Bali ada punakawan-punakawan lain, yaitu Merdah, Tualen, Sangut dan Delem.

Menurut Nardayana, nama tersebut didapatnya dari para penonton di sebuah desa di Gianyar, waktu ia sedang mengadakan pementasan di sana. Ketika seorang penonton menanyakan apa nama wayang yang sedang dipertunjukkan itu, seorang temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Sebelum Cenk Blonk, nama wayang yang kehadirannya dirintis sejak 1995 tersebut adalah Gita Loka (Nyanyian Alam).

Masih demi tetap eksisnya wayang kulit Bali, ia juga melakukan kaderisasi. “Saya membina dua kader dalang, masing-masing I Gusti Ngurah Kerta Yuda dari Kerambitan yang sekarang menjadi dalang di Chicago (AS) dan Ida Bagus Mantra Manuaba dari desa Tegaljadi Marga,” ucapnya.