Selasa, 21 September 2010

BATARA WISNU


Dalam ajaran agama Hindu, Wisnu (Dewanagari: विष्णु ; Viṣṇu) (disebut juga Sri Wisnu atau Nārāyana) adalah Dewa yang bergelar sebagai shtiti (pemelihara) yang bertugas memelihara dan melindungi segala ciptaan Brahman (Tuhan Yang Maha Esa). Dalam filsafat Hindu Waisnawa, Ia dipandang sebagai roh suci sekaligus dewa yang tertinggi. Dalam filsafat Adwaita Wedanta dan tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu dipandang sebagai salah satu manifestasi Brahman dan enggan untuk dipuja sebagai Tuhan tersendiri yang menyaingi atau sederajat dengan Brahman.

Dalam tradisi Dvaita Waisnawa, Wisnu merupakan Makhluk yang Maha Kuasa. Dalam filsafat Advaita Vedanta, Wisnu dipandang sebagai salah satu dari manifestasi Brahman. Dalam segala tradisi Sanatana Dharma, Wisnu dipuja secara langsung maupun tidak langsung, yaitu memuja awatara-nya.

Aliran Waisnawa memuja Wisnu secara khusus. Dalam sekte Waisnawa di India, Wisnu dipuja sebagai roh yang utama dan dibedakan dengan Dewa-Dewi lainnya, yang disejajarkan seperti malaikat. Waisnawa menganut monotheisme terhadap Wisnu, atau Wisnu merupakan sesuatu yang tertinggi, tidak setara dengan Dewa.

Dalam tradisi Hindu umumnya, Dewa Wisnu memanifestasikan dirinya menjadi Awatara, dan di India, masing-masing awatara tersebut dipuja secara khusus.

Tidak diketahui kapan sebenarnya pemujaan terhadap Wisnu dimulai. Dalam Veda dan informasi tentang agama Hindu lainnya, Wisnu diasosiasikan dengan Indra. Shukavak N. Dasa, seorang sarjana Waisnawa, berkomentar bahwa pemujaan dan lagu pujia-pujian dalam Veda ditujukan bukan untuk Dewa-Dewi tertentu, melainkan untuk Sri Wisnu — Yang Maha Kuasa — yang merupakan jiwa tertinggi dari para Dewa.[1]

Di Bali, Dewa Wisnu dipuja di sebuah pura khusus untuk beliau, bernama Pura Puseh, yakni pura yang harus ada di setiap desa dan kecamatan. Di sana ia dipuja sebagai salah satu manifestasi Sang Hyang Widhi yang memberi kesuburan dan memelihara alam semesta.

Menurut konsep Nawa Dewata dalam Agama Hindu Dharma di Bali, Dewa Wisnu menempati arah utara dalam mata angin. Warnanya hitam, aksara sucinya “U” (ung).

Dalam Purana, Dewa Wisnu menjelma sebagai Awatara yang turun ke dunia untuk menyelamatkan dunia dari kejahatan dan kehancuran. Wujud dari penjelmaan Wisnu tersebut beragam, hewan atau manusia. Awatara yang umum dikenal oleh umat Hindu berjumlah sepuluh yang disebut Dasa Awatara atau Maha Avatār.

Sepuluh Awatara Wisnu:

Di antara sepuluh awatara tersebut, sembilan di antaranya diyakini sudah menjelma dan pernah turun ke dunia oleh umat Hindu, sedangkan awatara terakhir (Kalki) masih menunggu hari lahirnya dan diyakini menjelma pada penghujung zaman Kali Yuga.

Dalam pementasan wayang Jawa, Wisnu sering disebut dengan gelar Sanghyang Batara Wisnu. Menurut versi ini, Wisnu adalah putra kelima Batara Guru dan Batari Uma. Ia merupakan putra yang paling sakti di antara semua putra Batara Guru.

Menurut mitologi Jawa, Wisnu pertama kali turun ke dunia menjelma menjadi raja bergelar Srimaharaja Suman. Negaranya bernama Medangpura, terletak di wilayah Jawa Tengah sekarang. Ia kemudian berganti nama menjadi Sri Maharaja Matsyapati, merajai semua jenis binatang air.

Selain itu Wisnu juga menitis atau terlahir sebagai manusia. Titisan Wisnu menurut pewayangan antara lain,

  1. Srimaharaja Kanwa.
  2. Resi Wisnungkara
  3. Prabu Arjunasasrabahu
  4. Sri Ramawijaya
  5. Sri Batara Kresna
  6. Prabu Jayabaya
  7. Prabu Anglingdarma

Denpasar, 22 September 2010

Minggu, 27 Juni 2010

PUTRA BIMA DI PEWAYANGAN BALI

Bima (Sanskerta: भीम, bhīma) atau Bimasena (Sanskerta: भीमसेन, bhīmaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Kata bhīma dalam bahasa Sanskerta artinya kurang lebih adalah "mengerikan". Sedangkan nama lain Bima yaitu Wrekodara, dalam bahasa Sanskerta dieja vṛ(ri)kodara, artinya ialah "perut serigala", dan merujuk ke kegemarannya makan. Nama julukan yang lain adalah Bhimasena yang berarti panglima perang. Konon lahir dalam keadaan bungkus. Baru dapat terbuka bungkus itu setelah diinjak-injak oleh seekor gajah yang bernama Gajah Sena. Setelah keluar dari bungkus itu, Bima pun mengamuk kepada Gajah Sena yang telah menginjak-injaknya. Lalu tubuh Gajah Sena itu di injak-injak pula dan mati, lalu menyatu dalam tubuh Bima seingga menjadi kuat tiada tara. Sedangkan nama Gajah Sena menjadi pelengkap nama Bima sehingga disebut juga BIMA SENA.

Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar, tegas dan menakutkan bagi musuh-musuhnya, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara. Dalam wiracarita Mahabharata diceritakan bahwa karena Pandu tidak dapat membuat keturunan (akibat kutukan dari seorang resi di hutan), maka Kunti (istri Pandu) berseru kepada Bayu, dewa angin. Dari hubungan Kunti dengan Bayu, lahirlah Bima. Atas anugerah dari Bayu, Bima akan menjadi orang yang paling kuat dan penuh dengan kasih sayang.

Bima tinggal di kadipaten Jodipati, wilayah Indraprastha. Ia mempunyai tiga orang isteri dan 3 orang anak, yaitu:

  1. Dewi Nagagini, berputera (mempunyai putera bernama) Arya Anantareja,
  2. Dewi Arimbi, berputera Raden Gatotkaca dan
  3. Dewi Urangayu, berputera Arya Anantasena.

Menurut versi Banyumas, Bima mempunyai satu istri lagi, yaitu Dewi Rekatawati, berputera Srenggini. Dalam pewayangan versi Surakarta, Antasena dan Antereja merupakan satu tokoh, sedangkan menurut versi Yogyakarta, keduanya merupakan tokoh yang berbeda. Lebih ke barat, yaitu dalam wayang golek Sunda, Antasena disebut juga Jakatawang.

Sementara itu di Bali Utara, Putra Bima selain Antareja, Gatotkaca dan Antasena juga mempunyai satu anak lagi dengan nama Windu Segara dari istri yang bernama Mina Lodra. Sedangkan menurut Bali Selatan, Windu Segara sama dengan Antareja.


Salam Dunia Wayang
Tommy Johan Agusta

Kamis, 10 Juni 2010

Profil : I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M. Hum

I Dewa Ketut Wicaksana, SSP., M. Hum, lahir di Geria Tengah, Desa Batununggul, Kecamatan Nusa Penida, Klungkung, Bali pada tanggal 22 Januari 1964. Sejak berusia 10 tahun ia menekuni kesenian terutama menabuh gender wayang. Belajar dari kakak kandung untuk mengikuti ayah mendalang wayang kulit di seputar wilayah Nusa Penida.

Selain berasal dari keluarga pedalangan, ia juga menggali ilmu di :

  1. ASTI Denpasar untuk menyelesaikan Sarjana Muda (BA) tahun 1986 dengan skripsi “Kekayon Wayang Kulit Parwa di Desa Sukawati Gianyar”
  2. Gelar Sarjana Seni Pedalangan (SSP) diperoleh di STSI (sekarang ISI Denpasar) tahun 1989 dengan skripsi “Pakeliran Wayang Berkembang, Anugerah”, duet bersama I Ketut Kodi, SSP
  3. Pada bulan September 1994, mengikuti Program Pasca Sarjana (S2) Kajian Seni Pertunjukkan, jurusan Ilmu-ilmu Humaniora di UGM Yogyakarta, dan diselesaikan tahun 1997 dengan gelar Magister Humaniora (M. Hum), tesis yang diangkat adalah “Wayang Sapuh Leger, Fungsi dan Maknanya dalam Masyarakat Bali”


Sebagai akademisi di almamaternya, yaitu ISI Denpasar Fakultas Seni Pertunjukkan Jurusan Pedalangan, ia menduduki jabatan Pambantu Dekan I. Berbagai jurnal ilmiah tentang wayang dan pedalangan telah ia tulis yang dapat diperoleh di Perpustakaan Fakultas dan ISI Denpasar.

Sebagai seniman, berkesempatan pula mengikuti misi kesenian ke Jepang (1990, 1993, 1995), Kapal Pesiar Jepang “Asuka” (1992), Taiwan (1998), dan Switzerland (2001). Pernah mendalang di luar Bali yaitu di Yogyakarta, Lampung, Sumbawa, dan Surakarta.

(dikutip dari buku Wayang Sapuh Leger) karya I Dewa Ketut Wicaksana


Perkenalan saya dengannya adalah bermula ketertarikan terhadap pewayangan Bali yang memang sangat sulit untuk diperoleh referensinya. Berbagai toko buku dan perpustakaan ternyata sulit mendapatkannya. Lalu secara tidak sengaja mendapatkan buku Wayang Sapuh Leger di Toko Buku Garuda Wisnu Jl Teuku Umar, Denpasar. Setelah saya baca hingga tuntas, lalu ketertarikan ini pun bertambah dan dengan sedikit menghindar dari rasa malu saya mendapatkan nomor handphone-nya dari Tata Usaha ISI Denpasar. Setelah kontak untuk yang pertama kalinya, lalu saya kunjungi ke tempat dimana ia mengajar dan setelah bertemu semakin akrab karena pribadinya sangat menyenangkan.


Untuk selanjutnya diskusi kami semakin intens dan ternyata mengapa buku wayang bali langka jawaban darinya adalah karena orang bali tidak ada kesempatan untuk menulisnya, jika ada itu pun hanya berkembang di seputar akademik berupa jurnal dan tulisan ilmiah. Tunggu sajalah apa yang kuperbuat dengannya nanti...


Tommy Johan Agusta

Denpasar, 11 Juni 2010

Selasa, 18 Mei 2010

WAYANG CENK BLONK


I Wayan Nardayana, S.Sn., M.Fil.H., yang lahir di Banjar Batannyuh, Belayu (Kecamatan Marga, Tabanan. Bali) pada tanggal 5 Juli 1965, setelah menamatkan Jurusan Pedalangan di ISI Denpasar melanjutkan ke jenjang Magister di Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar.
Ditangannya pulalah Wayang Cenk Blonk begitu digemari oleh masyarakat Bali. Selain menggunakan bahasa daerah, Nardayana juga sangat piawai mementaskan wayang dengan bahasa Inggris. Ditambah lagi guyonan dan banyolan yang menyegarkan sehingga penonton tidak beranjak hingga tuntas.

Pergelaran wayang kulit di Bali sebelum ini identik dengan pertunjukan untuk melengkapi upacara keagamaan dan adat. Sebagai tontonan, seni hiburan itu kurang menarik minat masyarakat setempat, terutama kaum muda. Namun, anggapan tersebut tidak lagi sepenuhnya benar, setelah I Wayan Nardayana melakukan terobosan, memadukan unsur tradisi dan kreasi untuk memperkaya pementasan wayang kulit Bali.

Wayang Cenk Blonk, jelas Nardayana, merupakan wayang Ramayana atau wayang Betel, bukan wayang Tantri atau wayang Babad. Cenk Blonk merupakan gabungan kependekan nama dua punakawan –Nang Klenceng dan Nang Keblong yang berwajah, suara dan perilaku lucu. Selain Klenceng dan Keblong, dalam wayang Bali ada punakawan-punakawan lain, yaitu Merdah, Tualen, Sangut dan Delem.

Menurut Nardayana, nama tersebut didapatnya dari para penonton di sebuah desa di Gianyar, waktu ia sedang mengadakan pementasan di sana. Ketika seorang penonton menanyakan apa nama wayang yang sedang dipertunjukkan itu, seorang temannya menjawab, “Wayang Cenk Blonk.” Sebelum Cenk Blonk, nama wayang yang kehadirannya dirintis sejak 1995 tersebut adalah Gita Loka (Nyanyian Alam).

Masih demi tetap eksisnya wayang kulit Bali, ia juga melakukan kaderisasi. “Saya membina dua kader dalang, masing-masing I Gusti Ngurah Kerta Yuda dari Kerambitan yang sekarang menjadi dalang di Chicago (AS) dan Ida Bagus Mantra Manuaba dari desa Tegaljadi Marga,” ucapnya.

Selasa, 20 April 2010

WAYANG KULIT DI MUSEUM BALI

Wayang Kulit Bali koleksi Museum Bali kurang begitu jelas usianya sudah berapa tahun, karena tidak ada informasi yang menerangkannya. Petugas museum yang saya tanya, juga kurang begitu paham mengenai wayang. Klop sudah. Wayang yang ada di museum adalah sebagai berikut:

1. BIMA : Salah satu ksatria dalam Pandawa Lima yang paling perkasa. Bima dilahirkan dalam keadaan bungkus dan yang berhasil dibuka oleh Gajah Sena, yang kemudian di hajar oleh Bima, sehingga namanya menjadi BIMASENA.
















2. DURYUDANA atau SUYUDANA : Adalah Raja di Astina yang mengambil hak pemerintahan dari ayahnya Raja Destarastra, untuk sementara sambil menunggu putra-putra Pandu Dewanata dewasa. Tapi setelah Pandawa dewasa, malah berpikir untuk menyingkirkan Pandawa















3. TWALEN: adalah pengasuh ksatria keturunan Dewa. Sebenarnya adalah penjelmaan Batara Ismaya (Di Jawa disebut SEMAR)
















4. MERDAH: adalah pasangan TWALEN


















5. DELEM : adalah pengasuh para KURAWA


















6. SANGUT: Pasangan dari DELEM



















7. RAMAWIJAYA : adalah tokoh sentral dalam Epos Ramayana, yang merupakan titisan Batara Wisnu


















8. LESMANA: adalah adik dari Ramawijaya


















9. RAHWANA: adalah tokoh jahat dalam Epos Ramayana


















10. KUMBAKARNA : adalah adik dari RAHWANA, yang menjadi pahlawan negeri Alengka atas keberaniannya membangkang perintah dari kakaknya yang berbuat salah. Dan kematian Kumbakarna di perang besar Alengka adalah untuk membela negara bukan membela angkara















11. ANOMAN: adalah kera sakti yang merupakan putera Batara Bayu dengan Dewi Anjani. Sangat sakti dan kehidupannya panjang hingga ke jaman Mahabharata.

Minggu, 18 April 2010

PERTEMPURAN JATAYU DAN RAHWANA


Jatayu (Sansekerta: जटायू,; Jatāyū) adalah tokoh protagonis dari wiracarita Ramayana, putera dari Sang Aruna dan keponakan dari Sang Garuda. Ia merupakan saudara Sempati. Ia adalah seekor burung yang melihat bagaimana Dewi Sita diculik oleh Rawana. Ia berusaha melawan tetapi kalah bertarung dan akhirnya mati. Tetapi ketika belum mati dan masih sekarat masih bisa melaporkan kepada Sri Rama bahwa Dewi Sita istrinya, diculik.
Harga: Rp. 950.000

RAMA MENGUTUS ANOMAN


Rama dan Lesmana mengutus Anoman untuk menyerahkan cincin kepada Dewi Sinta yang ditawan oleh Prabu Dasamuka (Rahwana) di Negara Alengka, disaksikan oleh Prabu Sugriwa dan Anggada.
Lukisan kaca ini dijual dengan harga Rp. 950.000

ARJUNA

Arjuna (Sanskerta: अर्जुन; Arjuna) adalah nama seorang tokoh protagonis dalam wiracarita Mahabharata. Ia dikenal sebagai penengah sang Pandawa yang menawan parasnya dan lemah lembut budinya. Dalam bahasa Sanskerta, secara harfiah kata Arjuna berarti "bersinar terang", "putih" , "bersih". Dilihat dari maknanya, kata Arjuna bisa berarti "jujur di dalam wajah dan pikiran". Di Jawa dan kemudian di Bali, Arjuna menjadi tokoh utama dalam beberapa kakawin, seperti misalnya Kakawin Arjunawiwāha, Kakawin Pārthayajña, dan Kakawin Pārthāyana (juga dikenal dengan nama Kakawin Subhadrawiwāha. Selain itu Arjuna juga didapatkan dalam beberapa relief candi di pulau Jawa misalkan candi Surowono.
Wayang kulit Arjuna dijual Rp. 300.000

ANOMAN

Hanoman (Sanskerta: हनुमान्; Hanumān) atau Hanumat (Sanskerta: हनुमत्; Hanumat), juga disebut sebagai Anoman, adalah salah satu dewa dalam kepercayaan agama Hindu, sekaligus tokoh protagonis dalam wiracarita Ramayana yang paling terkenal. Ia adalah seekor kera putih dan merupakan putera Batara Bayu dan Anjani, saudara dari Subali dan Sugriwa. Menurut kitab Serat Pedhalangan, tokoh Hanoman sebenarnya memang asli dari wiracarita Ramayana, namun dalam pengembangannya tokoh ini juga kadangkala muncul dalam serial Mahabharata, sehingga menjadi tokoh antar zaman. Di India, hanoman dipuja sebagai dewa pelindung dan beberapa kuil didedikasikan untuk memuja dirinya.
Wayang kulit hanoman ini harga Rp. 300.000

HYANG ANTABOGA


Sang Hyang Antaboga adalah Dewa penguasa bumi lapis ke tujuh (Saptapratala). Walaupun dalam keadaan biasa Sang Hyang Antaboga serupa dengan ujud manusia, tetapi dalam keadaan triwikrama, tubuhnya berubah menjadi ular naga besar. Selain itu, setiap 1000 tahun sekali, Sang Hyang Antaboga berganti kulit (mlungsungi).
Memiliki putri yang bernama Dewi Nagagini, yang bersuamikan Bima dan dari perkawinan ini akan melahirkan Antareja.
Wayang kulit Sang Hyang Antaboga ini dijual dengan harga Rp. 300.000

1 KOTAK WAYANG KULIT BALI

Bapak/ibu pecinta seni wayang kulit.
Kami juga menerima pesanan wayang kulit Bali komplit dalam 1 kotak, yang berisi lebih dari 125 tokoh wayang (termasuk kotak). Ongkos kirim ke alamat Anda, kami yang nanggung sepenuhnya.
Untuk pemesanan 1 kotak (1 set), akan diberikan harga khusus yaitu sebesar Rp. 37.500.000 (Tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah), dengan pola pembayaran dapat dicicil sebanyak 4 x, dengan detil sebagai berikut:
1. Sebagai Down Payment (tanda jadi) membayar Rp. 7.500.000 (Tujuh juta lima ratus ribu), sekaligus sebagai pembayaran tahap pertama.
2. Pembayaran tahap kedua (2 bulan setelah DP) sebesar Rp. 10.000.000 (Sepuluh Juta rupiah)
3. Pembayaran tahap ketiga (2 bulan setelah pembayaran tahap kedua) sebesar Rp. 10.000.000 (Sepuluh Juta rupiah)
4. Pembayaran tahap akhir (2 bulan setelah pembayaran tahap ketiga) sebesar Rp. 10.000.000 (Sepuluh Juta rupiah)
Setelah dinyatakan lunas, maka 1 set wayang kulit tersebut akan kami kirimkan ke alamat Anda.

Ketentuan:
Untuk menghindari perselisihan di kemudian hari, kami telah merancang sebuah Surat Perjanjian Jual Beli, yang apabila diperlukan memerlukan peran Notaris, maka biaya yang timbul atas jasa tersebut menjadi tanggungan pembeli.

Catatan:
Kesediaan bapak/ibu pecinta wayang kulit, untuk mengoleksi wayang kulit klasik khas Buleleng merupakan sumbangsih yang besar guna perbaikan ekonomi sang pengrajin yang hingga saat ini masih setia untuk bertahan sebagai seniman wayang.

Banyak penghargaan yang telah mereka raih atas kesetiaan sebagai seniman di Bali. Semoga saja dapat menjadi bahan pertimbangan bagi Anda sebelum memutuskan untuk memiliki 1 set (1 kotak) wayang kulit Bali. Diantaranya adalah penghargaan dari Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan penghargaan dari Bupati Buleleng.















GATOTKACA


Gatotkaca (bahasa Sanskerta: घटोत्कच; Ghattotkacha) adalah seorang tokoh dalam wiracarita Mahabharata yang dikenal sebagai putra Bimasena atau Wrekodara dari keluarga Pandawa. Ibunya yang bernama Hidimbi (Harimbi) berasal dari bangsa rakshasa, sehingga ia pun dikisahkan memiliki kekuatan luar biasa. Dalam perang besar di Kurukshetra ia banyak menewaskan sekutu Korawa sebelum akhirnya gugur di tangan Karna.
Uniknya Gatotkaca Buleleng berwajah raksasa dan berbeda dengan Gatotkaca Sukowati-Gianyar yang sudah berwujud manusia. (Di Jawa juga berwujud manusia gagah perkasa).
Harga Rp. 300.000

BIMA BULELENG


Bima (Sanskerta: भीम, bhīma) atau Bimasena (Sanskerta: भीमसेन, bhīmaséna) adalah seorang tokoh protagonis dalam Epos Mahabharata. Ia dianggap sebagai seorang tokoh heroik. Ia adalah putra Dewi Kunti dengan Batara Bayu dan dikenal sebagai tokoh Pandawa yang kuat, bersifat selalu kasar dan menakutkan bagi musuh, walaupun sebenarnya hatinya lembut. Ia merupakan keluarga Pandawa di urutan yang kedua, dari lima bersaudara.
Bima setia pada satu sikap, yaitu tidak suka berbasa basi dan tak pernah bersikap mendua serta tidak pernah menjilat ludahnya sendiri.
Tokoh Bima dalam wayang Buleleng ini berbeda dengan Bima dengan wayang Sukowati-Gianyar. Bima versi Buleleng jauh lebih klasik dan kuat serta tegas.
Harga Rp. 300.000

SARASWATI


Dewi Saraswati dikenal sebagai istri Batara Brahma.
Dewi Saraswati sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan dan Seni, dirayakan oleh umat Hindu di Bali, yang jatuh pada hari Saniscara (Sabtu) Umanis (Legi), wuku Watugunung. Perayaan ini dilaksanakan setiap 210 hari (atau 7 bulan menurut kalender Bali), sebagai penghormatan kepada dewi ilmu pengetahuan dan seni.
Lukisan kaca dari Desa Nagasepaha Buleleng, Bali ini adalah karya Wayan Arnawa yang pernah ikut serta dalam pameran lukis kaca di Jakarta.
Harga Rp. 600.000

SIWA


SIWA, adalah Dewa yang sangat dihormati oleh pemeluk agama Hindu, selain Wisnu dan Brahma.
Dalam tradisi Indonesia lainnya, kadangkala Dewa Siwa disebut dengan nama Batara Guru.
Dan berikut adalah salah satu lukisan kaca dengan tema Siwa atau Batara Guru, yang dilukis oleh seniman-seniman di Desa Nagasepaha Buleleng, Bali.
Harga: Rp. 600.000